Pertama kali saya melewati jalur Hutan Pusuk, saya langsung paham kenapa banyak orang menyebutnya salah satu “gerbang hijau” Lombok. Jalanan berkelok yang menanjak, pepohonan yang menjulang seperti pagar alami, dan udara yang tiba-tiba berubah sejuk—semuanya membuat saya merasa seperti keluar dari rutinitas kota dan masuk ke dunia lain yang lebih tenang.
Hutan Pusuk bukan sekadar jalan menuju Gili atau tempat singgah sebelum melanjutkan perjalanan. Ia adalah kawasan hutan lindung yang hidup, penuh suara burung, dedaunan, dan tentu saja gerombolan monyet yang sering membuat wisatawan tertawa, kadang terkejut, kadang gemas. Tapi di balik itu semua, Hutan Pusuk punya cerita panjang dan identitas kuat yang menjadikannya salah satu destinasi favorit dalam berbagai rute paket tour lombok.
Tulisan ini adalah upaya saya merangkum apa yang saya lihat, dengar, dan rasakan di tempat ini—dengan harapan siapa pun yang datang bisa melihat Hutan Pusuk bukan hanya sebagai tempat lewat, tetapi ruang yang pantas dihargai.
Di Mana Sebenarnya Hutan Pusuk Itu?
Hutan Pusuk berada di kawasan Pemenang, Lombok Utara. Lokasinya menjadi salah satu jalur utama menuju pelabuhan Bangsal, titik keberangkatan menuju Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air. Karena letaknya strategis, hampir semua orang yang ingin ke Gili akan melewati jalur Pusuk.
Namun yang banyak orang tidak sadari adalah bahwa kawasan ini merupakan bagian dari hutan lindung Gunung Rinjani. Vegetasinya rapat dan beragam, dari pohon-pohon besar hingga tanaman bawah hutan. Di beberapa titik, kabut turun tipis, membuat suasana semakin dramatis.
Saat berhenti di salah satu viewpoint, saya melihat awan menggantung rendah, seolah-olah Hutan Pusuk sedang bernafas. Sensasi ini yang membuat saya betah berlama-lama di sana.
Mengapa Disebut “Pusuk”?
Dalam bahasa Sasak, “pusuk” berarti puncak atau punggung bukit. Nama ini memang sangat tepat, karena jalurnya berada di titik tinggi yang menjadi perbatasan alami antara wilayah Lombok Utara dan Lombok Barat.
Dulu masyarakat lokal berjalan kaki melalui jalur ini untuk berdagang atau mengunjungi kerabat di desa lain. Kini, jalur ini menjadi jalan modern, namun sisa-sisa sejarah dan tradisi masih terasa melalui pura kecil, tempat sembahyang, dan beberapa titik yang dianggap sakral oleh masyarakat setempat.
Apa yang Membuat Hutan Pusuk Begitu Populer?
Banyak hal yang membuat Hutan Pusuk punya daya tarik kuat, baik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Berikut beberapa alasan yang menurut saya paling terasa saat berada di sana.
1. Monyet-Monyet Jinak dan Menghibur
Siapa pun yang pernah ke Pusuk pasti tahu bahwa penghuni paling terkenal di sini bukanlah manusia, melainkan monyet ekor panjang. Mereka tinggal bebas di dalam hutan, tetapi sering turun ke pinggir jalan untuk mencari makanan.
Saya pernah menaruh sebungkus kacang di tangan dan mendekat sedikit. Seekor monyet datang perlahan, mengambil kacang dengan sangat halus, lalu melompat kembali ke pohon. Rasanya seperti momen kecil yang menyenangkan, semacam interaksi singkat dengan alam liar yang tetap aman selama kita menghormati batasnya.
2. Pemandangan Lembah yang Menenangkan
Ada beberapa titik berhenti yang memungkinkan wisatawan melihat lembah hijau luas dari ketinggian. Saat pagi hari, matahari muncul dari balik pepohonan dan menciptakan warna emas yang indah. Sementara sore hari, kabut tipis membuat suasana lebih syahdu.
Pemandangannya seperti lukisan hidup. Cukup duduk di pinggir pagar kayu, tarik napas dalam-dalam, dan rasakan udara pegunungan yang masih segar.
3. Suasana Hutan yang Masih Alami
Banyak hutan wisata terasa seperti sudah “diatur”. Tapi Hutan Pusuk berbeda. Pohon-pohon besar masih tumbuh bebas, jalanan berkelok mengikuti bentuk bukit, dan suara alam sangat dominan. Tidak banyak bangunan atau hiruk-pikuk yang merusak nuansanya.
Inilah tempat yang tepat untuk merasakan energi hutan tropis di Lombok.
4. Lokasi Strategis untuk Wisata Lainnya
Karena berada di jalur menuju Gili, Hutan Pusuk sering menjadi spot penyegar sebelum melanjutkan petualangan laut. Banyak tur operator Lombok memasukkan Pusuk sebagai kunjungan singkat dalam rute perjalanan mereka.
Tempat ini juga dekat dengan objek lain seperti:
- Air Terjun Tiu Teja
- Air Terjun Tiu Kelep
- Hutan Baun Pusuk Lestari
- Pantai Nipah
Sehingga sangat mudah menggabungkannya dengan destinasi lain dalam satu hari perjalanan.
Pengalaman Pribadi Menjelajahi Pusuk
Saat kembali dari Gili Air, saya memutuskan untuk pulang lewat Pusuk. Hari sedang cerah dan jalanan tidak terlalu ramai. Kami berhenti di salah satu tikungan yang cukup lebar. Saya keluar dari mobil dan berdiri sebentar, memperhatikan monyet-monyet yang sibuk dengan dunianya sendiri.
Beberapa anak monyet melompat di cabang pohon seperti sedang latihan akrobat. Seekor induk duduk sambil mengelus kepala anaknya. Ada juga yang penasaran dengan para wisatawan dan mendekat pelan-pelan.
Di momen itu saya merasa seperti sedang melihat kehidupan yang berjalan tanpa campur tangan berlebihan dari manusia. Sederhana tetapi penuh makna.
Sesaat kemudian seorang pedagang jagung bakar lewat sambil tersenyum. “Indah ya, Mbak?” katanya. Saya mengangguk sambil tersenyum balik. “Indah banget,” jawab saya.
Hutan Pusuk bukan hanya tempat wisata. Ia adalah ruang hidup.
Nilai Spiritual dan Budaya di Pusuk
Bagi masyarakat setempat, Pusuk tidak hanya dipandang sebagai jalur pegunungan yang indah. Ada beberapa titik yang dipercaya sakral, menjadi tempat upacara atau doa tertentu. Biasanya pura kecil berdiri di pinggir tebing, dihiasi kain kuning-putih.
Saat melewatinya pada pagi hari, saya melihat beberapa warga membawa sesajen sederhana. Ada perasaan damai yang menyelimuti tempat itu. Mungkin karena alam dan tradisi berjalan berdampingan tanpa saling mengganggu.
Ekowisata dan Pentingnya Menjaga Hutan
Sebagai bagian dari kawasan lindung, Pusuk punya peran besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem Lombok Utara. Hutan ini menjadi rumah bagi satwa liar, penjaga tanah dari erosi, penyimpan air alami, dan penghasil udara bersih.
Wisatawan yang datang diharapkan:
- Tidak memberi makan monyet secara berlebihan
- Tidak membuang sampah sembarangan
- Tidak membuat suara gaduh yang mengganggu satwa
- Menghormati pura dan tempat sakral
Sederhana, tapi sangat berpengaruh bagi kelestarian Pusuk untuk generasi berikutnya.
Pusuk dan Pesonanya yang Sulit Dilupakan
Jalan berkelok, rimbunnya pepohonan, monyet-monyet yang tiba-tiba muncul, udara sejuk yang berbeda dari daerah pesisir—Hutan Pusuk memberikan pengalaman yang sulit dilupakan. Bagi saya, inilah salah satu wajah Lombok yang paling jujur: alami, bersahaja, dan penuh kehidupan.
Dan bagi siapa pun yang berencana menjelajahi pulau ini lewat paket tour lombok bersama Jelajah Lombok Tour, singgah ke Pusuk adalah pengalaman yang tidak boleh dilewatkan. Ini bukan sekadar objek wisata, tetapi potongan kecil dari ekosistem dan budaya Lombok yang masih bertahan dengan indahnya.